Upaya Konservasi Keanekaragaman Bambu YBKK Dikawal Perhutani Banyuwangi Barat

    Upaya Konservasi Keanekaragaman Bambu YBKK Dikawal Perhutani Banyuwangi Barat

    Banyuwangi Barat – Perum Perhutani KPH Banyuwangi Barat “Berburu Bambu Untuk Konservasi” bersama dengan pakar bambu Indonesia Prof. Dr. Elizabeth Anita Widjaja dalam penelitian dan konservasi bambu dalam program FOLU Net Sink 2030 yang dijalankan Yayasan Bumi Karuhun Kadudampit (YBKK) di Arboretum Bambu Petak 48k RPH Gunungsasi BKPH Glenmore, pada Jum’at (24/04/2026).

    Prof. Dr. Elizabeth Anita Widjaja menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 176 jenis bambu (Widjaja 2019) dari 1640 Jenis bambu di dunia, angka ini bertambah terus dengan ditemukannya jenis2 baru baik di Indonesia maupun di negara lain. Hilangnya keanekaragaman bambu Indonesia sejalan dengan hilangnya habitat asli bambu-bambu di Nusantara. Bambu yang cepat hilang terutama jenis-jenis yang tidak dimanfaatkan atau belum dimanfaatkan.

    “Tergerusnya jenis bambu tersebut karena Masyarakat umumnya belum mengetahui pemanfaatannya, namun suatu hari akan disayangkan bahwa jenis itu sudah hilang ketika disadari bahwa jenis tersebut ternyata sangat diperlukan. Semua terlambat karena jenisnya sudah hilang, ” tutur Prof. Dr. Elizabeth.

    “Selain itu penebangan yang berlebihan biasanya karena over harvesting. Tumbuhnya bambu yang muda tidaklah seimbang dengan dipotongnya bambu yang tua dengan demikian produktivitas bambu menurun. Penebangan dengan cara tebang habis juga akan mempengaruh produktivitas bambu berikutnya, ” ujarnya.

    “Hilangnya habitat karena penggantian fungsi lahan menjadi lahan industry, Perkebunan maupun perumahan. Untuk itu, pelestarian bambu sangatlah diperlukan dalam menjaga plasma nutfah bambu Indonesia. Keanekaragaman jenis bambu serta plasma nutfah bambu sangatlah diperlukan suata saat, ” ungkapnya.

    “Kepala Perhutani (Administratur) KPH Banyuwangi Barat yang diwakili oleh Asisten Perhutani (Asper) Glenmore, Rizki Arief Kurniawan menyambut baik kehadiran pakar bambu Indonesia Prof. Dr. Elizabeth Anita Widjaja dalam penelitian dan konservasi bambu diwilayah kerjanya.

    “Kami berharap dengan kegiatan ini dapat memberikan kontribusi positif dalam pengelolaan hutan lestari yang dilakukan oleh Perhutani dan memberikan manfaaat secara ekologi serta memberikan manfaat bagi masyarakat disekitar hutan, ” ujar Asper Glenmore.

    Selanjutnya Prof. Dr. Elizabeth menjelaskan bahwa Selain hilangnya kenanekaragaman bambu, menjaga merajalelanya bambu asing masuk ke Indonesia tidak bisa dipungkiri. Adanya hasil kultur jaringan import yang dikembangkan di Indonesia suatu saat akan mempengaruhi keanekaragaman asli bambu Indonesia. Karena itu sudah waktunya semua harus waspada dengan masukkan bambu asing ini. Akankah bambu asing ini menjadi invasive di hutan alam Indonesia. Tidak bisa dipungkiri merajalelanya jenis bambu asing seperti Chimonobambusa quadrangularis yang sudah merambah Taman Nasional Gede Pangrango, juga G. Sibayak perlu diwaspadai. Penanaman bambu di lereng G. Merapi dan Dieng yang semula bertujuan untuk mencegah erosi sudah merajai area ini. Merajalelanya bambu cendani (Phyllostachys aurea) membuktikan penutupan lahan areal konservasi yang harus dijaga keasliannya. Mudahnya mengimport bibit bambu baik dalam bentuk kultur jaringan maupun biji harus diwaspadai, karena itu ijin import jenis invasive harus sudah mulai dicegah untuk tidak meluas dan menggantikan bambu asli bahkan bambu endemic Indonesia.

    “Saat ini tim dari Yayasan Bumi Karuhun Kadudampit mencoba melestarikan jenis2 bambu asli Indonesia, selain itu YBKK juga mencoba mendata jens bambu asing yang mulai tersebar luas di Indonesia baik untuk tujuan sebagai tanaman hias maupun untuk tujuan komersial. Tim bergerak dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam menelusuri jenis2 asli Indonesia dan mencoba menanamnya di areal konservasi bambunya. Jenis asing ditanam untuk melihat seberapa jauh perkembangan bambu ini di alam dan mungkin bisa menjawab apakah perlu adanya ijin khusus dalam mengimport biji, kultur jaringan, tanaman dari negara lain. Adakah keuntungannya untuk bumi Nusantara ini ataukah akan menjadi bumerang bagi bumi ini seperti adanya ikan sapu-sapu, ikan arwana, kura2 brasil dan sebagainya, ” kata Prof. Dr. Elizabeth.

    “Kedatangan tim ke Lokasi terpilih selain untuk menyelamatkan, namun juga untuk menginventarisasi jenis bambu yang ada di Indonesia. Kunjungan ke areal APL merupakan sasaran utama, namun ada juga kunjungan yang dilakukan ke beberapa arboretum milik Perhutani dan Kehutanan serta Pemda setempat untuk melihat jenis yang mereka kembangkan. Suatu keunikan dari arboretum di Glenmore yang dikelola KPH Banyuwangi Barat adalah jenisnya yang diperoleh asli dari Banyuwangi sehingga disitu mengungkapkan betapa kayanya keanekargaman bambu di Banyuwangi, ” imbuhnya.

    “Namun sayang, keberadaan arboretum Glenmore kurang diberdayakan. Andaikan saja, hutan arboretum itu dikelola lebih intensif berapa uang yang akan masuk menjadi tulang punggung arboretum misalnya pengelolaan tanaman sehingga rumpun bambu akan menjadi lebih indah, bila disertai penulisan nama jenisnya akan membuat areal arboretum menjadi areal wisata pendidikan bambu. Dari bambu bisa menghasilkan uang bahkan bila dihitung jumlah karbon yang dihasilkan arboretum ini sudah akan tampak adanya pemasukan uang bagi Perhutani. Belum lagi pengolahan bambu menjadi bahan lain seperti biochar yang hasil ikutannya dapat memproduksi biopestisida, obat untuk diabetes, kanker payudara, kosmetik seperti sabun mandi cair, shampoo dan seribu lagi macam kegunaannya. Kerjasama dengan fihak swasta dapat meningkatkan pendapatannya namun juga berfungsi lain sebagai pelestarian. Syukurlah Arboretum Glenmore juga sudah menanam jenis endemik2 Banyuwangi seperti Bambu Manggong (di Glenmore disebut Jajang batu, jenisnya Bambusa jacobsii) dari Alas Purwo yang mungkin di Lokasi aslinya sudah berkurang karena adanya pembukaan jalan atau hal2 lain. Luasnya populasi bambu jenis ini di Alas Purwo belum diteliti dengan baik. Taman Nasional Alas Purwo merupakan hutan konservasi dan 60?ri hutan ini dihuni oleh bambu, Marilah kita lestarikan bambu Indonesia yang masih menyembunyikan misterinya, ” pungkasnya.

    Octavia Ramadhani

    Octavia Ramadhani

    Artikel Sebelumnya

    Sinergi Perhutani Lawu Ds dan Pemkab Ponorogo...

    Artikel Berikutnya

    Naikkan Produksi Getah Pinus Perhutani Banyuwangi...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Polri Kawal Ketat Massa Buruh May Day 2026 ke Jakarta
    Berita Acara Riklap Lisdes Dalam Kawasan Hutan Ditandatangani Perhutani Banyuwangi Barat
    Pemeriksaan Lapangan Lisdes Dalam Kawasan Hutan Perhutani Banyuwangi Barat
    Lisdes Dalam Kawasan Hutan Mendapat Dukungan Penuh Perhutani Banyuwangi Barat
    Perkuat Keamanan Aset Negara, Baharkam Polri dan Kemenko Polkam Evaluasi Pengamanan Obvitnas

    Ikuti Kami